Secara etimologi atau asal usul kata, “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan secara terminologi atau definisi demokrasi, Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

 

Demokrasi merupakan suatu paham yang hingga saat ini masih dianut oleh bangsa Indonesia, bahkan saat ini proses demokratisasi di Indonesia terus berkembang dengan pesat. Mulai dari Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) hingga Pemilihan Presiden (Pilpres) pun saat ini dilaksanakan secara langsung.Bagaimanapun juga, pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyatnya merupakan pemimpin yang mendapatkan mandat dan dukungan dari rakyat.

 

Kalau kita cermati, selama ini perguruan tinggi di mata masyarakat dipandang sebagai organisasi yang dinilai sudah mengangkat nilai-nilai demokratis. Tampak dari berbagai macam aksi mahasiswa yang seolah-olah menyuarakan amanat rakyat. Kalau kita melihat dari perspektif keaktivan mahasiswa ditataran masyarakat memang terlihat betapa demokratisnya dunia perguruan tinggi. Di mata sejarah pun, area perguruan tinggi sangat erat kaitanyya dengan pemerdekaan negara ini dari kaum otoriter. Sehingga tidak salah jika perguruan tinggi layak disebut sebagai “benteng demokrasi”

 

Perguruan Tinggi sebagai sebuah institusi independen yang merupakan tempat bagi pendidikan para kaum intelektual, kiranya bisa juga dikatakan sebagai sebuah miniatur negara. Sebuah negara dengan rektor sebagai pemimpin tertinggi atau presidennya, serta dosen, mahasiswa dan karyawan sebagai warga negaranya.

 

Ironisnya, mahasiswa sebagai “rakyat” di Perguruan Tinggi kerap tidak diperhatikan hak suaranya dan cenderung hanya bisa menerima siapa pun yang nantinya akan menjadi rektor, ya meskipun ada debat terbuka calon rektor yang disaksikan oleh mahasiswa. adanya debat terbuka calon rektor masih belum cukup dijadikan sebagai tolak ukur demokratisasi di kampus. Proses demokratisasi di kampus baru terwujud ketika mahasiswa benar-benar bisa menggunakan hak suaranya dan memilih rektornya sendiri, sesuai dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati.

 

Bagaimanapun juga, mahasiswa berhak untuk memilih rektor sesuai dengan aspirasi mahasiswa. Toh nantinya setiap kebijakan yang dikeluarkan rektor juga akan berdampak pada mahasiswa.

 

meskipun pemilihan langsung rektor bisa dikatakan sebagai tolak ukur demokratisasi di kampus oleh semua civitas kampus, namun perlu dipikirkan adanya sistem pemilihan yang sehat dan benar-benar ampu menjadi ajang pelaksanaan demokrasi yang kondusif dan benar-benar demokratis serta bebas dari praktik-praktik kecurangan. Sehingga proses pemilihan rektor secara langsung dapat menjadi pembelajaran demokrasi yang nyata bagi semua civitas kampus.